Raja Maroko Sampaikan Pidato kepada Rakyatnya, Ini Teks Lengkapnya
November 01, 2025
TRANSFORMASINUSA.COM | PALEMBANG – Pukul 9 malam, Minggu 9 Agustus 2026. Di halaman Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang, empat orang tergeletak di atas kardus. Dua di antaranya masih anak-anak. Wajah mereka letih, mata sayu. Bekal yang mereka bawa sudah habis sejak tiga hari lalu.
Mereka adalah Pak Agus, Ibu Sunarsi, dan dua anaknya. Warga Desa Keluang, Kecamatan Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin. Rumah mereka berjarak 6 jam perjalanan dari Palembang. Namun hampir setahun terakhir, jarak itu ditempuh berulang kali.
Bukan untuk liburan. Bukan untuk berobat ringan.
Tapi untuk satu hal: menyelamatkan putri sulung mereka yang berusia 16 tahun, yang sedang berjuang melawan Lupus.
*"Yang penting anak kami makan"*
Saat disapa, Pak Agus hanya menunduk. Suaranya pelan.
"Yang penting anak kami yang makan, Pak. Saya sama istri masih bisa nahan lapar," katanya.
Di bangsal, sang anak terbaring lemah. Penyakit autoimun itu menggerogoti tubuhnya perlahan. Kontrol ke dokter seharusnya rutin tiap bulan. Tapi sering tertunda. Bukan karena lupa. Karena di dompet, tidak ada sepeser pun untuk ongkos.
Ibu Sunarsi menahan tangis saat bercerita.
"Kadang jadwal kontrol harus kami tunda. Rasanya bersalah sekali sebagai orang tua. Lihat anak makin drop, tapi kami tidak bisa kasih yang terbaik," ucapnya.
Malu Minta Bantuan Lagi
Selama ini mereka sering dibantu Kepala Desa untuk tambahan ongkos. Tapi kali ini, harga diri mengalahkan segalanya.
"Saya sudah malu minta bantuan lagi. Akhirnya kami berangkat dengan uang seadanya. Sudah tahu bakal terlantar, tapi demi anak, kami tetap nekat," ujar Ibu Sunarsi.
Rozi, relawan kemanusiaan yang menemui mereka, membenarkan kondisi itu. Empat orang. Tiga hari. Tanpa ada makanan.
"Malam tadi ada yang menitipkan Rp150.000. Itu pun mungkin hanya cukup untuk dua hari," kata Rozi lirih.
Lupus perjuangan Panjang dan Biaya Tidak Sedikit.
Lupus Erythematosus Sistemik adalah penyakit autoimun yang menyerang banyak organ. Pengobatannya panjang. Kontrolnya wajib. Biayanya tidak sedikit.
Apalagi bagi keluarga yang hidup pas-pasan dan harus meninggalkan kebun demi berobat ke kota.
Di usia sekolah, taruhannya bukan hanya kesehatan, tapi juga masa depan. "Anaknya terancam berhenti sekolah," kata Rozi.
Saat ini keluarga ini hanya berharap uluran tangan. Tidak harus besar. Sekeping nasi untuk hari ini. Sebutir obat. Ongkos pulang ke Sungai Lilin. Biaya kontrol bulan depan agar pengobatan tidak putus.
"Karena menyembuhkan satu anak, berarti menyelamatkan satu keluarga. Menjaga satu keluarga, berarti menjaga masa depan satu desa," ujar Rozi.
"Di balik air mata orang tua, ada doa yang ingin dikabulkan. Dan mungkin, kita adalah jawabannya," tutupnya.
Sumber : Rozi sam rumah singgah palembang
[ Red ] Suhaimi
0 Komentar